KEPALA SEKOLAH SEBAGAI PEMIMPIN SPIRITUAL
KEPALA
SEKOLAH SEBAGAI PEMIMPIN SPIRITUAL
Makalah
Disusun untuk memenuhi
Matakuliah Kepemimpinan Pendidikan
yang dibina oleh Bapak
Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd
Oleh
Aa Coreta (170131601105)
Okky Irwina Savitri (170131601001)
Suciati Lia Oktaviani (170131601003)
Yulia Triana Ratnasari (170131601066)
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
Oktober,
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Spiritual” ini tepat
pada waktunya. Shalawat serta salam tak lupa kami sampaikan kepada Nabi
Muhammad SAW yang telah menerangi semua umat di muka bumi ini dengan cahaya
kebenaran.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah ikut membantu dalam penyelesaian penyusunan makalah ini. Khususnya
kepada dosen pembimbing yaitu Bapak Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd. yang telah membimbing
dan membagikan ilmunya kepada kami.
Kami selaku penulis menyadari bahwa dalam makalah ini
masih terdapat berbagai kekurangan dan kesalahan, baik dari segi isi maupun
dari segi bahasa. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
yang bersifat konstruktif untuk penyempurnaan makalah ini. Kami berharap agar
makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca.
Malang,
24 Oktober 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.......................................................................................................... ii
DAFTAR
ISI......................................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang................................................................................................................ 1
B. Rumusan
Masalah.......................................................................................................... 2
C. Tujuan............................................................................................................................. 2
BAB
II PEMBAHASAN
A. Konsep
Kepemimpinan Spiritual.................................................................................... 3
B. Karakteristik
Kepemimpinan Spiritual........................................................................... 4
C. Peran
Kepala Sekolah dalam Kepemimpinan Spiritual.................................................. 7
D. Kepemimpinan
Spiritual Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Profesionalisme
Guru................................................................................................................................. 8
BAB
III PENUTUP
Kesimpulan........................................................................................................................ 10
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................................ 11
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kepemimpinan
telah banyak diperbincangkan sebagai salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan perusahaan atau organisasi, maka dari itu kepemimpinan bukanlah
konsep atau fenomena baru dalam kehidupan kerja dan usaha, melainkan
pemahamannya sangat bervariasi. Orang masih sering menginterpretasikan
kepemimpinan secara berbeda-beda. Hal ini dapat dipahami karena kepemimpinan
itu bersifat kontekstual.
Organisasi
lembaga pendidikan yang salah satu unitnya adalah sekolah, telah kita ketahui
bahwa begitu banyak masalah yang muncul karena minimnya kualitas dan
kapabilitas kepemimpinan, namun disamping itu, organisasi lembaga pendidikan
harus menjadi sebuah wahana untuk pengembangan diri seseorang agar menjadi
manusia yang lebih baik. Profesionalitas guru, ketertiban dalam urusan
administrasi, kemampuan manajerial guru dan kepala sekolah, masih menjadi
problem yang cukup sering kita temui di organisasi lembaga pendidikan. Padahal
kapabilitas seorang pemimpin sangat dituntut agar memiliki kemampuan
menggerakkan seluruh stakeholder di satuan pendidikan dalam melaksanakan
aktivitas lembaganya, sehingga dapat tercapai tujuan lembaganya sesuai dengan apa
yang menjadi tujuan pendidikan itu sendiri.
Menurut
Rafsajani (2017) kepemimpinan kepala sekolah merupakan bagian terpenting dalam
pelaksanaan pengelolaan sekolah. Pengelolaan sekolah yang dipimpin oleh kepala
sekolah akan tergambar atau tercermin dari hasil belajar siswa. Ada berapa hal
yang dapat mempengaruhi kepemimpinan kepala sekolah antara lain; 1) harus
memiliki pengetahuan tentang manajemen, 2) memiliki ketahanmalangan dalam
melaksanakan tugas lain, (3) memiliki budaya organisasi (Syarwani, 2016).
Sedangkan menurut Mulyasa, dari laporan Bank Dunia menyatakan bahwa salah satu
penyebab makin menurunnya mutu pendidikan persekolahan di Indonesia adalah
kurangnya profesionalisme kepala sekolah sebagai manajer pendidikan di tingkat
lapangan (Mulyasa, 2005).
Selanjutnya,
komponen yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah
tenaga kependidikan dalam hal ini guru yang mempunyai peran strategis dalam
membentuk pengetahuan, keterampilan dan karakter siswa. Menurut UU No. 14 Tahun
2005 tentang Guru dan Dosen, Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar
Kualifikasi Akademik dan Profesi Guru, dan Permendiknas No. 13 Tahun 2007
tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, salah satu simpul yang sangat
strategis dan sejalan dengan tuntutan pembaharuan sistem manajemen sebagai
upaya membangun standarisasi pendidikan nasional di era global adalah masalah
profesionalisme guru dan kepemimpinan pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan
yang berkualitas sangat membutuhkan guru yang profesional sehingga nantinya
akan menghasilkan lulusan yang lebih berkualitas juga. Menjadi guru yang
profesional tidak akan terwujud begitu saja tanpa ada upaya untuk
meningkatkannya, salah satunya dengan adanya dukungan dari kepala sekolah yang
merupakan pihak yang mempunyai peran penting dalam hal ini, karena kepala
sekolah berhubungan langsung dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah.
Guru
profesional tidak hanya menguasai bidang ilmu dan cara pengajaran, akan tetapi
mampu memotivasi siswa dan membelajarkan siswa secara efektif serta memiliki
keterampilan tinggi dan wawasan luas terhadap dunia pendidikan. Menurut
Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005, bahwa kompetensi guru sebagai agen
pembelajaran meliputi: 1) kompetensi pedagogik, 2) kompetensi kepribadian, 3) kompetensi
profesional dan 4) kompetensi sosial. Profesionalisme guru sangat didukung oleh
kepemimpinan kepala sekolah yang efektif.
Tulisan
ini mencoba mengemukakan gaya kepemimpinan spiritual kepala sekolah dalam
mengembangkan profesionalisme guru di lembaga pendidikan dasar dan menengah.
Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian
kepada dimensi spiritual (keilahian). Spiritulitas oleh para futurolog seperti
Aburdene dan Fukuyama dikatakan sebagai abad nilai (the value age). Dalam perspektif sejarah Agama Islam, spiritualitas
telah terbukti menjadi kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan
individu-individu yang memiliki integritas dan akhlaqul karimah, yang
keberadaannya bermanfaat (membawa kegembiraan) kepada yang lain.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa konsep kepemimpinan
spiritual?
2.
Apa karakteristik
kepemimpinan spiritual?
3.
Bagaimana peran kepala
sekolah dalam kepemimpinan spiritual?
4.
Bagaimana gaya kepemimpinan
spiritual kepala sekolah terhadap profesionalisme guru?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui konsep
kepemimpinan spiritual.
2.
Memahami karakteristik
kepemimpinan spiritual.
3.
Mengetahui peran kepala
sekolah dalam kepemimpinan spiritual.
4.
Memahami gaya kepemimpinan
spiritual kepala sekolah terhadap profesionalisme guru.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Kepemimpinan Spiritual
Istilah “kepemimpinan”
telah banyak dikenal, baik secara akademik maupun sosiologik. Akan tetapi
ketika kata kepemimpinan dirangkai dengan konsep SQ kemudian menjadi leadership
SQ menjadi ambigu. Dalam tulisan ini selanjutnya, konsep Leadership SQ akan
diterjemahkan sebagai “kepemimpinan spiritual”. Istilah “spiritual” adalah
bahasa Inggris berasal dari kata dasar “spirit”. Dalam Bahasa Arab, istilah
spiritual terkait dengan yang ruhani dan ma’nawi dari segala sesuatu. Makna
inti dari kata spirit berikut kata jadiannya seperti spiritual dan
spiritualitas (spirituality) adalah bermuara kepada kehakikian, keabadian dan
ruh; bukan yang sifatnya sementara dan tiruan. Dalam perspektif Islam, dimensi
spiritualitas senantiasa berkaitan secara langsung dengan realitas Ilahi, Tuhan
Yang Maha Esa (tauhid). Spiritualitas bukan sesuatu yang asing bagi manusia,
karena merupakan inti (core)
kemanusiaan itu sendiri. Manusia terdisi dari unsur material dan spiritual atau
unsur jasmani dan ruhani. Perilaku manusia merupakan produk tarik-menarik
antara energi spiritual dan material atau antara dimensi ruhaniah dan
jasmaniah. Dorongan spiritual senantiasa membuat kemungkinan membawa dimensi
material manusia kepada dimensi spiritualnya (ruh, keilahian). Caranya adalah
dengan memahami dan menginternalisasi sifat-sifat-Nya, menjalani kehidupan
sesuai dengan petunjuk-Nya dan meneladani Rasul-Nya Tujuannya adalah memperoleh
ridlo-Nya, menjadi “sahabat” Allah, “kekasih” (wali) Allah. Inilah manusia yang
suci, yang beberadaannya membawa kegembiraan bagi manusiamanusia lainnya.
Kepemimpinan spiritual
adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi spiritual
(keilahian). Tuhan adalah pemimpin sejati yang mengilhami, mempengaruhi,
melayani dan menggerakkan hati nurani hamba-Nya dengan cara yang sangat
bijaksana melalui pendekatan etis dan keteladanan. Karena itu kepemimpinan
spiritual disebut juga sebagai kepemimpinan yang berdasarkan etika religius.
Kepemimpinan yang mampu mengilhami, membangkitkan, mempengaruhi dan
menggerakkan melalui keteladanan, pelayanan, kasih sayang dan implementasi
nilai dan sifat-sifat ketuhanan lainnya dalam tujuan, proses, budaya dan
perilaku kepemimpinan.
Dalam perspektif
sejarah, kepemimpinan spiritual telah dicontohkan dengan sangat sempurna oleh
Nabi Muhammad SAW. Dengan integritasnya yang luar biasa dan mendapatkan gelar
sebagai al-amin (terpercaya), Nabi Muhammad SAW mampu mengembangkan
kepemimpinan yang paling ideal dan paling sukses dalam sejarah peradaban umat manusia.
Sifat-sifatnya yang utama yaitu siddiq (integrity), amanah (trust),
fathanah (smart) dan
tabligh (openly) mampu mempengaruhi orang lain dengan cara mengilhami tanpa
mengindoktrinasi, menyadarkan tanpa menyakiti, membangkitkan tanpa memaksa dan
mengajak tanpa memerintah. Dengan demikian persoalan spiritualitas semakin
diterima dalam abad 21 yang oleh para futurolog seperti Aburdene dan Fukuyama
dikatakan sebagai abad nilai (the new age).
Dalam perspektif
sejarah Islam, spiritualitas telah terbukti menjadi kekuatan yang luar biasa
untuk menciptakan individu-individu yang suci, memiliki integritas dan akhlakul
karimah yang keberadaannya bermanfaat (membawa kegembiraan) kepada yang lain.
Secara sosial, spiritualitas mampu membangun masyarakat Islam mencapai puncak
peradaban, mampu mencapai predikat khaira ummat dan keberadaannya membawa
kebahagiaan untuk semua (rahmatan lil’âlamin).
Kepemimpinan spiritual
diyakini sebagai solusi terhadap krisis kepemimpinan saat ini. Kepemimpinan
spiritual merupakan puncak evolusi model atau pendekatan kepemimpinan karena
berangkat dari paradigma manusia sebagai makhluk yang rasional, emosional dan
spiritual atau makhluk yang struktur kepribadiannya terdiri dari jasad, nafsu,
akal, kalbu dan ruh. Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang sejati dan
pemimpin yang sesungguhnya. Dia memimpin dengan etika religius yang mampu
membentuk karakter, integritas dan keteladanan yang luar biasa. Ia bukan
seorang pemimpin karena pangkat, kedudukan, jabatan, keturunan, kekuasaan dan
kekayaan.
Kepemimpinan spiritual
bukan berarti kepemimpinan yang anti intelektual. Kepemimpinan spiritual bukan
hanya sangat rasional, melainkan justru menjernihkan rasionalitas dengan
bimbingan hati nuraninya. Kepemimpinan spiritual juga tidak berarti
kepemimpinan dengan kekuatan gaib sebagaimana terkandung dalam istilah “tokoh
spiritual” atau “penasehat spiritual”, melainkan kepemimpinan dengan
menggunakan kecerdasan spiritual, ketajaman mata batin atau indera keenam.
Kepemimpinan spiritual juga tidak bisa disamakan dengan yang serba esoteris
(batin) yang dilawankan dengan yang serba eksoteris (lahir, formal), melainkan
berupaya membawa dan memberi nilai dan makna yang lahir menuju rumah batin
(spiritual) atau memberi muatan spiritualitas dan kesucian terhadap segala yang
profan. Kajian dan penelitian tentang kepemimpinan spiritual dengan berbagai
variasi peristilahannya semakin menarik dan semakin banyak dilakukan
akhir-akhir ini. Demikian juga pelatihan dan buku-buku atau majalah-majalah
tentang spiritualitas termasuk di dalamnya kecerdasan spiritual semakin banyak
bermunculan dengan tiras yang tinggi. Kajian tentang kepemimpinan spiritual
dalam berbagai bidang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu antara lain
oleh beberapa peneliti sebagaimana dikemukakan di atas dan terbukti sangat
efektif. Dalam konteks pendidikan Islam dengan berbagai persoalan yang
menyertainya, kepemimpinan spiritual adalah salah satu solusi paling efektif
untuk melakukan perubahan.
B.
Karakteristik
Kepemimpinan Spiritual
Seiring dengan
ditemukannya konsep kecerdasan spiritual yang justru dianggap sebagai the
ultimate intellegence dan sebagai pondasi yang
diperlukan bagi keefektifan dua kecerdasan yang lain yakni IE dan CE. Sebagaimana
yang diuraikan di atas, kepemimpinan
spiritual adalah kepemimpinan yang berbasis pada etika religius, kepemimpinan
atas nama Tuhan, yaitu kepemimpinan yang terilhami oleh perilaku etis Tuhan
dalam memimpin makhluk-makhluk-Nya.
Adapun karakteristik
dari kepemimpinan spiritual sebagaimana yang disampaikan oleh Tobroni adalah sebagai berikut:
1.
Kejujuran Sejati
Rahasia
sukses para pemimpin besar dalam mengemban misinya adalah memegang teguh
kejujuran. Berlaku jujur senantiasa membawa kepada keberhasilan dan
kebahagiaan pada akhirnya, kalaupun mungkin pada awalnya boleh
jadi terasa pahit. Orang yang jujur adalah
orang yang
memiliki integritas dan kepribadian yang utuh sehingga dapat
mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam situasi apapun. Orang yang jujur
adalah orang yang memiliki integritas dan integritas adalah mulia dan menjadi
kekuatan yang luar biasa untuk meraih kesuksesan. Integritas adalah sebuah
kejujuran, tidak pernah berbohong dan kesesuaian antara perkataan
dan perbuatan. Dengan integritas seseorang akan dipercaya, dan
kepercayaan akan menciptakan pengaruh dan pengikut.
2.
Fairness
Pemimpin
spiritual mengemban misi sosial untuk menegakkan keadilan di muka bumi, baik
adil terhadap diri sendiri, keluarga dan orang lain. Bagi para pemimpin
spiritual, menegakkan keadilan bukan sekedar kewajiban moral religius dan
tujuan akhir dari sebuah tatanan sosial yang adil, melainkan sekaligus dalam
proses dan prosedurnya untuk keberhasilan kepemimpinannya.Seorang pemimpin yang
ketahuan bahwa dia tidak berlaku adil terhadap orang lain terutama yang
dipimpinnya, maka akan sia-sialah perkataan, peraturan dan kebijakan-kebijakan
yang telah dibuatnya, tidak akan ditaati dan dihormati secara tulus atau
sukarela. Percy sebagaimana dikutip Tobroni, dalam hal ini mengatakan “tanpa
kepemimpinan tidak akan ada pengikut dan tiada pengikut tanpa kejujuran dan
inspirasi” (no leadership without
follower and no follower without honest and inspiration)
3.
Semangat Amal Sholeh
Kebanyakan
pemimpin suatu lembaga, mereka sebenarnya bekerja bukan untuk orang dan lembaga
yang dipimpin, melainkan untuk “keamanan”, “kemapanan” , dan “kejayaan”
dirinya. Tetapi kepemimpinan spiritual bersikap berbeda, yakni bekerja karena
panggilan dari hati nuraniyang ditujukan semata-mata untuk mengharap ridho
Tuhan. Seorang spiritualis rela bersusah payah, bekerja tak kenal waktu dan
lelah untuk bisa memberikan kontribusi
terbaiknya, mumpung masih punya kesempatan dan kemampuan untuk berdedikasi
kepada Tuhan dan sesama.Orientasi hidup seorang spiritualis bukan untuk “memiliki”
sesuatu apakah berupa kekayaan, jabatan, dan simbol-simbol kebanggaan duniawi
lainnya, melainkan untuk “menjadi” sesuatu.
4.
Membenci Formalitas Dan
Organized Religion
Bagi seorang spiritualis, formalitas tanpa isi bagaikan pepesan
kosong. Organized religion
biasanya hanya mengedepankan dogma, peraturan, perilaku, dan hubungan sosial yang terstruktur yang berpotensi
memecah belah. Tindakan formalitas perlu dilakukan untuk memperkokoh makna dari
substansi tindakan itu sendiri dan dalam rangka merayakan sebuah kesuksesan
atau kemenangan. Pemimpin spiritual lebih mengedepankan
tindakan yang genuine dan substantive. Kepuasan dan
kemenangan bukan ketika mendapatkan
pujian, piala dan sejenisnya, melainkan ketika memberdayakan, memampukan, dan membebaskan orang dan lembaga yang
dipimpinnya. Ia puas ketika dapat memberikan sesuatu dan bukan ketika menerima sesuatu.
Pujian dan sanjungan manusia apabil tidak disikapi secara arif
justru dapat membahayakan dan mengancam kemurnian dan kualitas karya dan
kepribadiannya. Karena itu pujian yang ia harapkan adalah pujian dan keridhoan
Tuhan semata.
5.
Sedikit Bicara, Banyak
Kerja Dan Santai
Banyak bicara banyak salahnya, banyak musuhnya, banyak dosanya serta sedikit kontemplasinya
dan sedikit karyanya. Seorang pemimpin
spiritual adalah pemimpin yang sedikit bicara banyak
kerja. Ia lebih mengedepankan pekerjaan secara efisien dan efektif.
6.
Membangkitkan yang
Terbaik Bagi Diri Sendiri dan Orang Lain
Sebagaimana
dikemukakan di muka, pemimpin spiritual berupaya mengenali jati dirinya dengan
sebaik-baiknya. Upaya mengenali jati diri itu juga dilakukan terhadap orang
lain terutama para kolegial, relasi, dan orang-orang yang dipimpinnya. Jati
diri itu meliputi potensi lahiriah seperti kecakapan dan profesionalitas hobi,
kondisi kesehatan, dan potensi batin seperti watak dan karakternya. Dengan
mengenali jati diri, iadapat membangkitkan segala potensinya dan dapat bersikap
secara arif dan bijaksana dalam berbagai situasi. Dengan mengenali jati diri,
ia dapat membangkitkan dengan cara yang memikat, “memukul” tanpa menyakiti,
mengevaluasi tanpa menyinggung harga diri. Dengan mengenali jati diri, ia dapat
berperilaku, menghormati dan memperlakukan diri sendiri dan orang lain “apa
adanya”. Ketika menghadapi orang-orang yang menyulitkan, seorang trouble
maker dan menjadi source of problem sekalipun ia tetap dengan cara yang arif dan bijaksana dan tetap menghargai
jati dirinya. Dengan cara seperti itu, pemimpin spiritual diibaratkan seperti samudra
yang semangat (ombak)nya senantiasa bergelora tetapi air (lingkungan)nya tetap
jernih dan menjernihkan setiap yang keruh yang datang padanya.
7.
Keterbukaan Menerima
Perubahan
“Perubahan”
adalah kata yang paling disukai bagi kelompok tertindas dan sebaliknya paling
ditakuti oleh kelompok mapan. Pimpinan biasanya dikategorikan sebagai kelompok
mapan dan pada umumnya berusaha menikmati kemapanannya dengan menolak
perubahan. Kalaupun ia gencar mengadakan perubahan adalah dalam rangka
mempertahankan atau mengamankan posisinya. Pemimpin spiritual berbeda dengan
pemimpin pada umumnya. Ia tidak alergi dengan perubahan dan juga bukan penikmat
kemapanan. Pemimpin spiritual memiliki rasa hormat bahkan rasa senang dengan
perubahan yang menyentuh diri mereka yang paling dalam sekalipun. Ia sadar
bahwa kehadirannya sebagai pemimpin memang untuk membawa perubahan. Ia sadar
bahwa perubahan adalah hukum alam. Semua yang ada di alam ini akan berubah
kecuali yang membuat perubahan itu sendiri. Pemimpin spiritual berkeyakinan
bahwa lembaga yang ia pimpin bukan untuk dirinya, bukan simbol prestasi dan
prestise dirinya dan juga bukan untuk keluarga dan kroni-kroninya, melainkan
sebaliknya dirinya adalah untuk lembaga bahkan kalau perlu rela hancur asalkan
lembaga yang dipimpinnya berjaya. Lembaga yang dipimpin merupakan wahana
beraktualisasi diri dan berdedikasi kehadirat Tuhan.
8.
Pemimpin yang Dicintai
Pemimpin pada umumnya sering tidak perduli apakah mereka
dicintai para karyawannya atau tidak. Bagi mereka dicintai atau dibenci itu tidak penting, yang penting dihormati dan memperoleh legitimasi
sebagai pemimpin. Bahkan sebagian di antara mereka merasa tidak perlu dicintai karena
hal itu akan menghalangi dalam mengambil keputusan yang sulit yang menyangkut persoalan
karyawannya. Pernyataan ini mungkin ada benarnya, akan tetapi bagi
pemimpin spiritual, kasih sayang sesama justru merupakan ruh (spirit)
sebuah organisasi. Cinta kasih bagi pemimpin spiritual bukanlah cinta kasih dalam pengertian sempit yang dapat mempengaruhi obyektifitas dalam pengambilan keputusan dan
memperdayakan kinerja lembaga, tetapi cinta kasih yang memberdayakan, cinta
kasih yang tidak semata-mata bersifat perorangan, tetapi cita kasih struktural
yaitu cinta terhadap ribuan orang yang dipimpinnya.
9.
Think
Globally And Act Locally
Statemen
di atas merupakan visi seorang pemimpin spiritual. Memiliki visi jauh ke depan
dengan fokus perhatian kekinian dan kedisinian. Dalam hal yang paling abstrak
(spirit, soul, ruh) saja ia dapat
meyakini, memahami dan menghayati, maka dalam kehidupan nyata ia tentu lebih
dapat memahami dan menjelaskan lagi walaupun kenyataan itu merupakan cita-cita
masa depan. Ia memiliki kelebihan untuk menggambarkan idealita masa depan secara
mendetail dan bagaimana mencapainya kepada orang lain seakan-akan gambaran masa
depan itu sebuah realitas yang ada di depan mata.
10.
Disiplin
Tetapi Fleksibel Dan Tetap Cerdas Serta Penuh Gairah
Kedisiplinan
pemimpin spiritual tidak didasarkan pada sistem kerja otoritarian yang menimbulkan
kekakuan dan ketakutan, melainkan didasarkan pada komitmen dan kesadaran yaitu
kesadaran spiritual yang oleh Percy dianggap sebagai bentuk komitmen yang
paling tinggi setelah komitmen politik, komitmen intelektual, dan komitmen emosional.
Pemimpin spiritual adalah orang yang berhasil mendisiplinkan diri sendiri dari
keinginan, godaan dan tindakan destruktif atau sekedar kurang bermanfaat atau
kurang patut. Kebiasaan mendisiplinkan diri ini menjadikan pemimpin spiritual
sebagai orang yang teguh memegang prinsip, memiliki disiplin yang tinggi tetapi tetap fleksibel, cerdas, bergairah,
dan mampu melahirkan energi yang seakan tiada habisnya.
11.
Kerendahan Hati
Seorang
pemimpin spiritual menyadari sepenuhnya bahwa semua kedudukan, prestasi,
sanjungan, dan kehormatan itu bukan karena dia dan bukan
untuk dia, melainkan karena dan untuk Dzat yang Maha Terpuji.
C.
Peran
Kepala Sekolah dalam Kepemimpinan Spiritual
Sebagaimana
yang diuraikan di atas, bahwa masalah-masalah pendidikan di Indonesia sekarang
ini dapat diatasi melalui spiritual leadership. Dengan kata lain pemimpin
spiritual adalah faktor utama terjadinya perubahan dari suatu lembaga
pendidikan untuk meraih prestasi. Implementasi puncak etika religus dalam
kehidupan sehari-hari akan melahirkan orang yang memiliki komitmen dan
dedikasi, sabar, rela berkorban, berjuang tanpa kenal lelah dan ikhlas. Inilah
orang yang memiliki spiritualitas, orang yang mampu menjadi soko guru tegaknya
lembaga pendidikan. Peran kepala sekolah dalam kepemimpinan spiritual menurut Tobroni
adalah sebagai berikut:
1.
Sebagai pembaharu
Keberhasilan pemimpin spiritual
dalam mengembangkan pendidikan tidak lepas dari perannya sebagi pembaharu.
Gagasan-gagasan atau ide-ide baru senantiasa keluar dari hasil kontemplasi,
penjajahan, dan pengembaraan intelektualnya yang luas.
2.
Pemimpin spirirtual
sebagai pemimpin organisasi pendidikan
Sebagaimana dikemukakan dalam pembahsan
sebelumnya, lembaga penididkan merupakan lembaga industry yang mulia yang
merupakan gabungan dari lembaga yang bersifat profit seperti perusahaan,
industry dan jasa dan lembaga non profit seperti lembaga social kemasyarakatan,
dan lembaga dakwah lainnya
3.
Pemimpin spiritual
sebagai administrator proses pembelajaran
Kepala sekolah selama ini lebih
banyak berperan sebagai administaror pembelajaran. Tugas mereka seakan selesai
apabila proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lancer dan tertib. Pemimpin
spiritual memandang tugas sebagi administrator sebagi tugas rutin dank arena
itu diserahkan pelaksanaanya kepada masing-masing pemimpin atau unit. Posisi
pemimpin spiritual dalam hal ini berperan sebagai pengilhaman, pencerahan dan
pembangkitan.
4.
Pemimpin spirirtual
sebagai pendidik
Salah satu kekuatan yang
menyebabkan pemimpin spiritual berhasil dalam mengembangkan pendidikan adalah
karena perannya sebagai pendidik. Di depan muridnya ia tetap seorang guru yang
mau menyapa dan peduli sehingga memiliki hubungan yang harmoni, dekat akrab dan
khurmah. Di depan guru dan karyawan ia adalah seorang teman, sesama guru yang
senasip dan seperjuangan. Dilihat dari proses pembelajaran di lembaga
pendidikan pemimpin spiritual terbukti mampu mengefektifkan proses pembelajaran
dan melakukan berbagai inovasi
D.
Gaya
Kepemimpinan Spiritual Kepala Sekolah terhadap Profesionalisme
Guru
Di antara standar
kompetensi kepala sekolah yang telah diatur oleh undang-undang, model gaya
kepemimpinan spiritual substantif kepala sekolah ini dapat dikategorikan ke
dalam kompetensi kepbribadiannya, adapaun kompetensi yang lainnya seperti
kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi, dan
kompetensi sosial, merupakan model gaya kepemimpinan spiritual instrumental. Model
dua gaya kepemimpinan spiritual ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang
lainnya. Jika
kepemimpinan spiritualnya muncul dalam kepribadiannya, maka akan berimplikasi
terhadap kepemimpinan spiritual instrumentalnya yang akan berfungsi juga
terhadap pengembangan profesionalisme guru di lembaganya yang ia pimpin.
Upaya
kepala sekolah dalam mengembangkan profesionalisme guru adalah menyelenggarakan
sistem penilaian portofolio dalam konteks persiapan sertifikasi guru untuk
memperoleh sertifikat pendidik. Oleh karena itu penilaian portofolio guru
dibatasi sebagai penilaian terhadap karir prestasi guru dalam menjalankan
tugasnya sebagai agen pembelajaran. Menurut Andayani dengan adanya penilaian
fortopolio melalui Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) dalam bentuk
Penelitian Tindakan Kelas (PTK), diharapkan dapat meningkatkan dan
mengembangkan keprofesionalan guru dalam mengelola pembelajaran. Sebagai dasar
untuk menentukan tingkat profesionalitas guru, portofolio terdiri atas 10
komponen, yaitu (1) Kualifikasi akademik, (2) Pendidikan dan Latihan, (3)
Pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5)
penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) Karya
pengembanagn profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman
organisasi dibidang kependidikan dan sosial, dan (10) Penghargaan yang relevan
dengan bidang pendidikan. Sepuluh komponen portofolio merupakan refleksi dari
empat kompetensi guru. Setiap komponen portofolio dapat memberikan gambaran
satu atau lebih kompetensi guru peserta sertifikasi, dan secara akumulasi dari
sebagian atau keseluruhan komponen portofolio mereflesikan keempat kompetensi
guru yang bersangkutan adalah kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan
profesional (Andayani, 2008:4).
Upaya
kepala sekolah untuk mengembangkan profesionalisme guru yang telah dijelaskan
diatas, bukan hanya mengerjakan kompetensi yang ada, dan bukan hanya
mempengaruhi para guru, akan tetapi kepemimpinannya harus lebih dari itu, yaitu
berbasis etika religius, kepemimpinan yang terilhami oleh perilaku etis Tuhan
dalam memimpin makhluk-makhlukNya. Ia harus mengemban misi humanisasi (amar ma’kruf), liberalisasi (nahi
munkar), dan transendensi (membangkitkan iman).
Berikut
pokok-pokok karakteristik kepemimpinan spiritual yang berbasis pada etika
religius: kejujuran sejati, fairness, pengenalan diri sendiri, fokus pada amal
shaleh, spiritualisme yang tidak dofmatis, bekerja lebih efisien, membangkitkan
yang terbaik dalam diri sendiri dan orang lain, keterbukaan menerima perubahan,
visioner tetapi ffokus pada persoalan di depan mata, doing the right think,
disiplin tetapi tetap fleksibel, santai dan cerdas, dan kerendahan hati
(Tobroni, 2010:20).
Selanjutnya
kekuatan spiritualitas memiliki tiga pilar penyangga: pertama, kualitas sumber
daya manusia. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang badannya sehat dan
kuat (jism al-salim), akalnya sehat, jernih dan cerdas (aql al-salim) yang
kesemuanya itu akan melahirkan kualitas pribadi yang tenang dan memiliki
integritas (nafs al-mutmainnah). Kedua, kekuatan spiritualitas. Kekuatan
spiritualitas seseorang ditentukan oleh kekuatan iman, ihsan, dan taqwa. Dan
ketiga, kualitas moral. Kualitas moral adalah nilai-nilai moral yang menuntun
dan mengarahkan perilaku seseorang yang meliputi prinsip-prinsip: istiqomah,
ikhlash, jihad, dan amal shalih (Tobroni, 2010:125–126).
Sebagaimana
spiritualitas, materialitas juga memiliki tiga pilar penyangga, pertama,
kualitas sumber daya manusia, yaitu manusia yang berpola pikir jahiliyah,
manusia yang hatinya sakit, kotor (qolbun maridl) dan manusia yang hatinya
mati, tidak memiliki hati nurani (qalbun mayyit) yang kesemuanya itu akan
melahirkan manusia yang tidak tenang, tidak memiliki integritas (nafsu
‘llawwamah).
Di antara
guru atau para bawahan yang dipimpin oleh setiap kepala sekolah di lembaga
pendidikannya merupakan materialitas yang harus dikembang profesionalismenya
dari yang sakit menjadi sehat, yang kotor menjadi suci, yang tidak memilki
integritas kemudian menjadi memiliki integritas. Maka dari itu, terdapat
istilah-istilah kunci yang menggambarkan peran dan perilaku yang dilakukan
oleh pemimpin spiritual yaitu; pemimpin sebagai penggembala (murrabi),
penjernih dan pengilham, pemakmur, entrepreneur, dan pemberdaya.(Tobroni,
2010:26) Tidak hanya sekedar sebagai pemimpin (leader) pendidikan, sebagai
administrator dan manajer pendidikan, sebagai supervisior, dan tidak hanya
sekedar sebagai pendidik.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kepemimpinan
spiritual bisa diartikan sebagai kepemimpinan yang bisa menjaga nilai-nilai
etis dan menjunjung tinggi nilai-nilai spritual. Kekuatan spiritual memiliki
tiga penyangga yaitu kualitas sumber daya manusia (jism al-salim),
kualitas spirituallitas (aql al-salim), dan kualitas moral (nafs
al-mutmainnah). Begitupun dengan materialitas memiliki tiga penyangga qalbun
maridl, qalbun mayyit dan nafsu lawwamah.
Kepemimpinan
dalam lembaga pendidikan merupakan kepemimpinan yang berdasarkan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Konsep dasar kepemimpinan dalam lembaga pendidikan
secara operasional dijabarkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang kemudian dirinci pelaksanaannya
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan. Pengelolaan dan penyelenggaran pendidikan
dilaksanakan berdasarkan standar pendidikan yang diatur melalui Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Upaya
kepala sekolah untuk mengembangkan profesionalisme guru bukan hanya mengerjakan
kompetensi yang ada, dan bukan hanya mempengaruhi para guru untuk mengamalkan
kompetensinya, akan tetapi kepemimpinannya harus lebih dari itu, yaitu berbasis
etika religius, kepemimpinan yang terilhami oleh perilaku etis Tuhan dalam
memimpin makhluk-makhlukNya. Ia harus mengemban misi humanisasi (amar
ma’kruf), liberalisasi (nahi munkar), dan transendensi
(membangkitkan iman).Adapun istilah-istilah kunci yang menggambarkan peran dan
prilaku yang dilakukan oleh pemimpin spiritual yaitu; pemimpin sebagai
penggembala (murrabi), penjernih dan pengilham, pemakmur, entrepreneur,
dan pemberdaya.
DAFTAR RUJUKAN
Andayani.
2008. Materi Pokok Pemantapan Kemampuan Profesional 1-12.
Jakarta:
Universitas Terbuka.
Mulyasa, E. 2005. Menjadi
Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Mensukseskan MBS
dan KBK.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13
Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16
Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Profesi Guru.
Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005
Rafsanjani,
H. 2017. Jurnal
Masharif al-Syariah: Jurnal Ekonomi
dan Perbankan Syariah
Syarwani,
A. 2016. Ketahanmalangan Kepemimpinan Kepala Sekolah; Salah Satu
Faktor Penentu Keberhasilan Kepala Sekolah. Yogyakarta: Deepublish
Tobroni. 2010. The Spiritual Leadership.
Malang: UMM Press
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Komentar
Posting Komentar